Minggu, 01 Januari 2012

Ceramah Halal Bihalal

ان الحمد  لله  نحمده  و نستعينه  و  نستغفره   و نعوذ بالله  من   شرور انفسنا ومن  سيئات   اعمالنا من  يهدى الله  فلا مضل له  ومن يضلل فلا هادي له  اشهد ان لا اله الا الله   وحده لا شريك له  واشهد   ان محمدا عبده ورسوله لا نبي ولا رسول بعده  اللهم  صل و سلم على  محمد وعلى اله واصحابه اجمعين ومن  تبعهم باحسان الى  يوم  الدين اما بعد 
قال الله تعالى  فى القران  الكريم   اعوذ بالله من  الشيطان  الرجيم
يا ايها  الذين  امنوا اتقوا الله حق تقاته  ولا تموتن الا وانتم  مسلمون
يا ايها   الناس  اتقوا ربكم  الذي   خلقكم من نفس واحدة  و خلق منها  زوجها و بث منهما رجالا كثيرا و نساءا و اتقوا الله الذي تساءلون به و الارحام ان الله كان عليكم رقيبا 
يا ايها الذين   امنوا اتقوا الله و قولوا قولا سديدا يصلح لكم اعمالكم و يغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

Bapak/Ibu , hadirin dan hadirat  rahimakumullah
Mari kita bersyukur kehadirat Allah Swt, atas limpahan taufiq, hidayah dan inayah-Nya, pada hari ini kita dapat berkumpul di majlis yang mulia ini dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun Pramuka  yang sekaligus kita melaksanakan acara halal bihalal dalam keadaan sehat wal ‘afiat, shalawat dan salam semoga terlimpah keharibaan Rasulullah Muhammad Saw, keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti sunah beliau hingga akhir zaman.
Bapak/Ibu, hadirin dan hadirat  rahimakumullah
Pada hari ini, kita masih berada di bulan Syawal 1431 H , oleh karena itu saya ucapkan Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim,  Suasana keakraban dengan saling maaf memaafkan dari segala dosa dan kesalahan, sehingga kita menjadi orang yang bersih dan siap membuka lembaran baru yang penuh harapan. Melangkah kedepan menyongsong harapan dengan meninggalkan ramadhan bulan yang penuh dengan berbagai kenangan, bulan penempaan iman, bulan kemenangan terhadap godaan syetan, bulan yang penuh dengan kerahmatan dan ampunan serta ditutup dengan tebusan dari segala siksaan. Maka orang yang berhari raya iedul fitri adalah orang yang kembali suci, seperti saat dia baru dilahirkan, sebagaimana sabda Rasulullah saw dari sahabat Abu Hurairah ra.:
من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
Artinya :
"Barang siapa yang berpuasa ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu",
Hadits diatas memberi penjelasan bahwa jika seseorang berpuasa dengan keimanan kepada Allah dan ridha dengan kewajiban puasa, mengharap pahala, maka Allah Swt, benar-benar akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dosa dan kesalahannya kepada Allah Swt terhapus dengan puasa yang dijalaninya dan kesalahannya terhadap sesama manusia terhapus dengan saling memaafkan, sehingga  kita menjadi orang yang suci, dan pantas kalau Allah Swt. cinta kepadanya, karena lapar dan dahaga sebulan penuh  semata-mata karena Allah Swt, ditambah do'anya yang tertuju kepada Allah semata, membuat dirinya berhati lembut dan mampu menangkap rahasia sinyal kekuasaan Allah Swt. sehingga ia semakin dekat dan taatnya kepada Allah Swt. semakin meningkat, maka pantas jika seorang Hukama berkata :
ليس العيد لمن لبس الجديد ولكن العيد لمن طاعته تزيد
"Bukanlah hari raya itu untuk orang-orang yang berpakaian serba baru, tetapi yang disebut hari raya adalah untuk orang yang ketaatannya kepada Allah bertambah"
Bapak/Ibu, hadirin dan hadirat  rahimakumullah
Selama Ramadhan manusia diajak dan diproses untuk kembali kepada nilai-nilai kemanusiannya yang suci dan sempurna. Selama sebulan manusia menjalani sebuah pemusatan latihan dengan menahan dan mengendalikan segala macam godaan syahwat serta duniawi yang merupakan sumber karat dan kotoran nurani. Puasa merupakan upaya kreatif manusia untuk membuang karat noda yang menempel di nuraninya dan menjaganya dari pengotoran kembali                             Pada hakekatnya puasa adalah proses kreatif manusia melakukan imsak. Secara filosofis imsak dapat dipahami sebagai upaya untuk menahan segala sesuatu yang bukan haknya. Imsak berarti juga menunda dan menahan diri, dari segala kesenangan sesaat yang bersifat semu, untuk memperoleh kesenangan abadi yang hakiki. Sebagaimana pesan Rasulullah Saw, puasa bukan sekedar meninggalkan makan, minum dan segala sesuatu yang akan membatalkannya, tetapi puasa adalah sebuah upaya untuk  menjaga dan mengendalikan organ tubuh kita seperti mata, tangan, kaki, lidah, telinga, hati, pikiran dari segala yang merugikan bagi diri sendiri apalagi bagi orang lain. Inilah konsep imsak dalam ibadah puasa yang telah kita laksanakan selama bulan ramadhan, dan hanya dengan imsak manusia akan mendapatkan dan menemukan hakikat kemanusiaannya.        
Kalau konsep imsak ini digunakan untuk melihat kondisi bangsa kita, barangkali kita dapat menyimpulkan bahwa persoalan-persoalan yang ada, yang datang silih berganti adalah karena kita tidak dapat memahami dan mengaktualisasikan pesan-pesan moral imsak yang ada dalam ibadah puasa dalam kehidupan sehari-hari.
           Karena itu selama bulan ramadhan manusia diharapkan dapat melakukan upaya pencarian kreatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan universalnya yang selama ini tertimbun dalam belantara belukar kehidupan dunia. Timbunan ini harus digali sehingga berhasil ditemukan, dibersihkan, dan dikembalikan kesuciannya karena puasa pada hakikatnya adalah proses awal pencerahan spiritual manusia dan peningkatan kualitasnya menuju prestasi taqwa. Barulah ketika hari raya idul fitri, manusia mengalami pencerahan, tidak jarang seseorang pada malam idul fitri, dalam kesendiriannya dan kebeningan hatinya menitikkan air mata ketika mengucapkan asma Allah atau mendengar takbir yang menggema, ia tiba-tiba merasa malu di hadapan Allah Swt, betapa kehidupan dunia telah melalaikannya, betapa dalam kehidupan ini secara personal maupun sosial, banyak hal-hal yang selama ini dilakukannya telah membuat buta mata hatinya karena ia telah menodai dan meninggalkan fitrahnya.                                                       Idul fitri menyentakkan dan menyadarkan manusia dari kungkungan nafsu duniawi, kesadaran ini pada gilirannya akan mengantarkan manusia pada kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiannya. Ia berusaha mengangkat kembali nilai-nilai insaniahnya yang selama ini terabaikan. Iapun kembali kepada asal penciptaan (fitrah)nya. Tidak berlebihan kalau Nabi Saw mengungkapkan idul fitri secara metaforis sebagai kelahiran kembali manusia. Ia kembali suci tiada dosa sebagaimana bayi yang baru dilahirkan ibunya. Idul fitri adalah buah dari proses pencerahan manusia selama puasa, dan dengan pencerahan ini  manusia akan mengisi hari-hari berikutnya dengan sesuatu yang lebih berkualitas dari hari sebelumnya.                                    
 Pada hari raya Idul fitri ini seluruh ummat islam bergembira, mereka menebar senyum kepada sesama dan saling memaafkan, tidak ada lagi dendam dan permusuhan, semua sudah dihapuskan dan mencair dalam suasana damai. Kitapun membuka lembaran baru yang lebih baik. Pada hari yang sakral ini kita lepas segala atribut yang bersifat artificial yang sering menyekat hubungan antara kita. Hilang semua simbul-simbul dan atribut duniawi, tercabik pula tirai kesombongan dan keangkuhan yang selama ini sering mewarnai pola interaksi sosial. Kita kembali kepada kesadaran hakiki kemanusiaan yang terdalam untuk menjadi insan kamil   dengan prestasi taqwa yang diraihnya.
          Puasa menyadarkan kembali manusia untuk lepas dari kungkungan nafsu duniawi yang telah membelokkan mereka dari tujuannya ke titik sentral kehidupan yakni Allah Swt. Inilah bekal yang akan kita gunakan dalam menghadapi hari-hari berikutnya pasca ramadhan. Pengalaman spiritual selama ramadhan diharapkan bisa mengarahkan dan membimbing perjalanan hidup kita pada masa-masa selanjutnya serta memelihara kita dari kekotoran jiwa.
Bapak/Ibu, hadirin dan  hadirat  rahimakumullah,
Pelaksanaan hari raya dimulai dengan shalat idul fitri secara khusyu', dengan hati yang ikhlas, memperbanyak takbir, dzikir dan doa, mengharap rahmat Allah Swt,  dan momen berkumpulnya manusia saat shalat idul fitri mengingatkan kita, bahwa kelak manusia  akan berkumpul  pada suatu tempat yang agung di hadapan Allah Swt. Dzat Maha Agung di padang makhsyar, kedudukan manusia yang berbeda-beda ketika ber’idul fitri mengingatkan tentang perbedaaan dan kedudukan manusia nanti yang jauh lebih besar di akherat kelak sesuai dengan ibadah dan amal shalih masing-masing.
 Bulan ramadhan telah selesai meninggalkan kita, namun amal seorang mukmin tidak akan pernah selesai sebelum kematian datang menjemputnya.
ôç6ôã$#ur y7­/u 4Ó®Lym y7uÏ?ù'tƒ ÚúüÉ)uø9$# ÇÒÒÈ  
Artinya : "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian)" QS.al-Hijr : 99.
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B ÇÊÉËÈ    ال عمران
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan  beragama Islam”.  (QS.Ali imran : 102)
Meskipun bulan ramadhan telah berlalu, tidak berarti bahwa seorang muslim harus berhenti atau terputus dari ibadah puasa, karena ibadah puasa tetap disyariatkan di bulan lain meskipun diluar bulan ramadhan dalam bentuk ibadah puasa sunat, seperti puasa enam hari di bulan syawwal, tiga hari dalam setiap bulan qamariyah pada tanggal 13,14 dan 15, puasa hari arafah 9 Dzulhijjah, puasa hari 'asyura 10 Muharram, puasa setiap hari senin dan kamis, dan puasa di bulan sya'ban  atau puasa Daud.
Begitu pula dengan ibadah shalat malam, meskipun ramadhan telah berlalu, shalat malam masih disyariatkan untuk dikerjakan setiap malam dan Rasulullah selalu mengerjakannya sebagaimana hadits riwayat Bukhari dari Mughirah bin Syu'bah beliau bersabda :
عن مغيرة بن شعبة  أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى حتى انتفخت قدماه فقيل أتتكلف هذا وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر قال أفلا أكون عبدا شكورا

Artinya : Sungguh Nabi saw. benar-benar mengerjakan shalat malam, sehingga kedua telapak kaki-Nya bengkak. Pada saat hal ini ditanyakan kepadanya, Beliau menjawab :
افلا  اكون  عبدا  شكورا 
"Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur"?.

Dan dalam sebuah hadits yang lain Beliau bersabda :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلامَ ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصِلُوا الأَرْحَامَ ، وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلامٍ  هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ

Artinya: "Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah kekerabatan, dan shalatlah di malam hari ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat .(HR.Tirmidzi)".
Bapak/Ibu, hadirin dan  hadirat rahimakumullah
Seorang budayawan Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan, yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban.
Menurut syari’at agama Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera meminta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah Swt, lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (QS. Ali Imran :134).
Dalam budaya Jawa, seseorang melakukan “sungkem” kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Sungkem bukannya simbol kerendahan derajat, melainkan justru menunjukkan perilaku utama. Tujuan sungkem, adalah sebagai lambang penghormatan, sebagai permohonan maaf, atau “nyuwun ngapura”. Istilah “ngapura” tampaknya berasal dari bahasa Arab “ghafura” yang berarti permohonan maaf.
Para ulama di Jawa tampaknya ingin mewujudkan tujuan puasa Ramadhan selain untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, juga mengharapkan agar dosa-dosanya di waktu yang lampau diampuni oleh Allah Swt. Seseorang yang merasa berdosa kepada Allah Swt. bisa langsung mohon pengampunan kepada-Nya dengan beristighfar tetapi, apakah semua dosanya bisa terhapus jika dia masih bersalah kepada orang lain yang dia belum minta maaf kepada mereka?
Nah, di sinilah para ulama mempunyai ide, bahwa di hari lebaran itu antara seorang dengan yang lain perlu saling memaafkan kesalahan masing-masing, yang kemudian dilaksanakan secara kolektif dalam bentuk halal bihalal. Jadi, disebut hari lebaran, karena puasanya telah lebar (selesai), dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus). Dari hal ini dapat dimengerti, bahwa tradisi lebaran berikut halal bihalal merupakan perpaduan antara unsur budaya Jawa dan budaya Islam. Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.

Bapak/Ibu, hadirin dan  hadirat rahimakumullah
Sejarah asal mula halal bihalal menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah shalat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam, dengan istilah halal bihalal, kemudian berkembang sampai sekarang yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah maupun swasta yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai  lapisan.
Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat dan dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan. Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat, maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Bapak/Ibu, hadirin dan  hadirat rahimakumullah
Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri. Ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut yaitu:
pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengandung dosa. Jadi halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.
kedua berpijak pada arti kebahasaan, akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti “menyelesaikan problem”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, dan “mencairkan yang beku”.
                     Jika demikian, ber-halal bihalal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghalangi terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh, dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap adil yang anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungan dari kesalahpahaman akibat ucapan atau perbuatan yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik, yang beku dihangatkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.
            Itulah makna halal bihalal yang dapat diungkap semoga kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran darinya karena orang yang rajin berhalal bihalal dan bersilaturahim akan dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rizkinya. Orang yang bersilaturahim adalah orang yang tidak punya masalah, kepribadiannya baik, mudah memaafkan, hidupnya tenang dan banyak relasi. Orang yang rajin bersilaturahim akan dipanjangkan umurnya yang secara simbolis walau orangnya sudah tiada atau meninggal dunia, namanya akan selalu hidup dan dikenang oleh orang lain serta dilapangkan rizkinya karena banyak orang yang akan memberi bantuan terhadapnya karena kebaikan pribadi yang dimilikinya.


Bapak/Ibu, hadirin dan  hadirat rahimakumullah
Demikianlah taushiah yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini, terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf  atas segala kekurangannya. Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim, wabillahit taufiq wal hidayah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar